| MI
Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Menghadiri Rapat Koordinasi Teknis Satgas Pengendalian Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah dan Lakukan Koordinasi terkait Prakiraan Berbasis Dampak
PALANGKA RAYA - Selasa, 04/06/2024, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Agung Sudiono Abadi, S.Si didampingi oleh tim bidang data dan informasi menghadiri Rapat Koordinasi Teknis Satgas Pengendalian Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah, sekaligus melakukan koordinasi mengenai prakiraan berbasis dampak. Berlokasi di Aula Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Provinsi Kalimantan Tengah dan dihadiri oleh seluruh BPBD yang ada di Kalimantan Tengah. Pada kegiatan ini Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut berkesempatan untuk menjadi narasumber mengenai prakiraan berbasis dampak, yang diwakili oleh Rahmat Alfandy, S.Tr. Prakiraan berbasis dampak atau yang sering dikenal IBF (Impact-Based Forecast), merupakan informasi cuaca yang disampaikan berfokus pada dampak yang dapat ditimbulkan oleh keadaan cuaca signifikan, seperti hujan lebat, angin kencang, thunderstorm/hujan lebat yang dapat disertai angin dan kilat atau petir, dan sebagainya. Terdapat beberapa elemen penting yang perlu dipahami dalam IBF, diantaranya adalah risk, vulnerability, hazard, dan exposure. Risk atau risiko merupakan gabungan antara vulnerability (kerentanan), hazard (bahaya), dan exposure (keterpaparan). Selain itu elemen lainnya yaitu ketidakpastian prediksi (uncertainty). Dalam membangun IBF, BMKG bekerja sama dengan beberapa instansi diantaranya BNPB, BPBD, PUPR, dan sebagainya, agar mencakup kebutuhan berbagai sektor dan masyarakat. Melalui koordinasi ini, identifikasi risiko dampak cuaca buruk yang ditimbulkan dapat dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan, yang dituangkan dalam matriks dampak dan respon. Harapannya dengan banyak pihak yang terlibat dampak dari cuaca buruk akan dapat diminimalisir.