berita
berita

| dvn

Perkuat Sinergi Hadapi Karhutla, BMKG Kalteng mendukung OMC dan Posko Terpadu

												

PALANGKA RAYA — Langkah proaktif dan terpadu terus digencarkan guna mengantisipasi serta menanggulangi ancaman Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah. Bertempat di Pos Komando (Posko) Penanganan Darurat Bencana Karhutla, Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut - BMKG memperkuat kolaborasi bersama instansi terkait melalui serangkaian operasi kesiapsiagaan terpadu yang dikoordinir oleh Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah. Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berlangsung sejak 15 hingga 30 Juni 2026. Melalui OMC ini, penyemaian awan (cloud seeding)difokuskan pada wilayah-wilayah rawan untuk memicu hujan buatan, sehingga kelembapan tanah dan ketersediaan air di kawasan gambut tetap terjaga sebelum memasuki puncak musim kemarau. Peran Krusial Informasi Cuaca: Selama masa operasi, BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut memegang peranan vital dalam menyuplai analisis dinamika atmosfer secara real-time, mulai dari arah dan kecepatan angin, tingkat keawanan, hingga peta sebaran titik panas (hotspot). Data ini menjadi dasar navigasi utama bagi penyemaian awan maupun penentuan sasaran pemadaman. Menindaklanjuti kegiatan OMC, sinergi antar-instansi berlanjut melalui pembentukan Posko Udara dan Posko Darat yang terus beroperasi secara aktif hingga saat ini. Posko Udara: Bertugas melakukan pemantauan area secara meluas dari udara serta memandu armada water bombing (pemboman air) untuk memadamkan api di titik-titik lokasi yang sulit dijangkau oleh jalur darat. Posko Darat: Menjadi garda terdepan penanganan lapangan yang melibatkan Satgas Gabungan (BPBD, TNI/Polri, Manggala Agni, dan relawan). Tim darat bergerak cepat menindaklanjuti laporan hotspot untuk melakukan pemadaman langsung (round-suppression) serta pembasahan lahan. Sinergi lintas sektoral di Posko Komando Penanganan Darurat ini diharapkan mampu menekan potensi kebakaran hutan dan lahan secara signifikan, meminimalkan dampak asap, serta menjaga stabilitas lingkungan dan aktivitas masyarakat Kalimantan Tengah tetap aman terkendali.